Menyiasati kalah harga dengan marketplace

Mungkin hari ini anda tengah bermuram durja karena harga di toko fisik anda kalah harga dengan marketplace seperti toped, BL, Lazada, Shopee, dsb. Banyak user / calon pembeli membanding-bandingkan harga dengan marketplace 🙂 . Namun, tidak usah bersedih hati berkepanjangan.

Beberapa hari terakhir ini saya juga mengalaminya. Produk mouse gaming saya tidak bisa deal karena kalah harga dengan marketplace. Yah, seperti yang sudah kita ketahui, persaingan di marketplace memang berdarah-darah. Lha, distributor juga main disitu, dengan harga grosir. Tamatlah sudah 😀

Kalau hal ini dirasa sudah mengganggu, solusinya adalah bikin lapak sendiri yang bonafid. Artinya bikin web toko online dengan tampilan yang segar. Kalau lapak sudah milik sendiri (beli hosting dan domain), kita bebas menentukan harga jual yang wajar. Tidak lagi ada banting-bantingan harga.

Walau harga masih belum bersaing dengan harga di marketplace, kita bisa mengimbangi dengan kecepatan layanan chat via WA, telegram/BBM, dsb. Juga via dukungan atau support seperti garansi dan after sales lainnya.

Jika kita punya lapak sendiri, kita lebih pede melayani pelanggan. Ini lho toko online saya 🙂 Tidak hanya kestamer dari jauh, kestamer di sekitar toko fisik insya Allah bisa didapat. Karena mereka lebih senang belanja di toko terdekat yang lebih mudah support dan after salesnya.

Semoga bermanfaat.

Advertisements

Bila minimarket berdiri di lingkungan masjid

Kalau dilihat sekilas toko retail kecil diatas adalah sebuah hal jamak. Yang membedakan cuma lokasinya, yakni berada di lingkungan masjid jami. Dan saya meyakini, suatu saat nanti ia akan menjelma menjadi minimarket.

Minimarket tidak harus berdiri di trafik keramaian “yang seperti biasanya”. Minimarket, suatu saat nanti bisa berdiri di dekat sebuah masjid yang ramai jamaahnya. Bukan hanya jamaah dari warga sekitarnya, namun juga jamaah dari luar daerah.

Realita menunjukkan, bahwa masjid yang nyaman ternyata menjadi rest area favorit bagi para musafir. Masjid-masjid yang dikelola dengan baik akan menjadi “idola” bagi para tamu dari jauh. Disinilah akan menjadikan “crowd” atau kerumunan di saat-saat ibadah sholat wajib atau di saat kegiatan sosial atau keagamaan lainnya.

Akhirnya, lagi-lagi kembali pada prinsip, “dimana ada kerumunan, disitu pasti ada orang jualan” 😁

Namun, bila dilihat dari fenoimena saat ini, kesadaran akan kebutuhan spiritual dan aktualisasinya memang tengah meningkat. Grafik kesadarannya lagi naik.

Gerakan2 anti riba, hijabers, lagi marak dimana-mana. Belum lagi gerakan-gerakan sedekah berjamaah. Dan gerakan-gerakan lainnya. Masjid akan banyak menjadi pusat kegiatan sosial dan pendidikan.

Saya jadi teringat sebuah buku “Marketing to the Middle Class Moslem” karya Yuswohady. Toko retail diatas suatu saat akan ada relevansinya dengan isi buku tersebut.

Tukang sayur vs mandor pabrik

Saya dapat cerita ini dari istri saya, dia bercerita begini, seorang temannya pernah bekerja sebagai mandor pabrik rokok di perusahaan rokok ternama. Posisi / jabatan sebagai mandor di suatu divisi di pabrik tersebut tentunya sudah lumayan gajinya. Jam kerjanya mulai dari pukul 07.00 pagi sampai pukul 17.00 sore. Suatu durasi kerja yang cukup melelahkan tentunya.

Karena semakin hari desakan mengurus anak-anak yang masih kecil tidak bisa ditinggalkan lagi, akhirnya diambil-lah keputusan yang cukup berat untuk resign. Otomatis, dengan posisi tidak bekerja lagi, pemasukan tambahan tidak ada. Satu-satunya sumber pendapatan utama adalah dari suaminya. Maka diputarlah otak agar ia tetap bisa bekerja, namun juga bisa mengurus anak.

Tercetuslah ide untuk membuka jualan sayur mentah di depan teras rumah. Maka, dicobanya usaha jualan sayur itu dengan target pelanggan ibu-ibu di sekitar rumahnya. Setelah berjalan selama beberapa bulan, ternyata hasilnya lumayan. Dan setelah berjalan satu tahun lebih, penghasilannya sangat-sangat lumayan, bahkan melebihi gaji yang dulu sebagai seorang mandor pabrik.

Ditambah lagi, durasi kerjanya pun lebih pendek. Mulai berbelanja di pasar pukul 03.30 pagi, tutup lapak pukul 10 siang. Selambat-lambatnya pukul 11 dagangannya sudah habis. Kalau pun masih ada yang tersisa, dia konsumsi sendiri untuk kebutuhan keluarga.

Laiknya sebuah cerita orang yang sedang berusaha, ada sisi manisnya, ada pula sisi tidak manisnya. Berjualan sayur seperti ini diperlukan persiapan mental dan fisik. Karena harus bangun pagi-pagi buta untuk berbelanja. Dimana saat-saat seperti ini; banyak orang lain yang tengah terlelap dengan tidur dan mimpi indahnya.

Semuanya memang musti diperjuangkan 🙂

Semoga bermanfaat !