Bila minimarket berdiri di lingkungan masjid

Kalau dilihat sekilas toko retail kecil diatas adalah sebuah hal jamak. Yang membedakan cuma lokasinya, yakni berada di lingkungan masjid jami. Dan saya meyakini, suatu saat nanti ia akan menjelma menjadi minimarket.

Minimarket tidak harus berdiri di trafik keramaian “yang seperti biasanya”. Minimarket, suatu saat nanti bisa berdiri di dekat sebuah masjid yang ramai jamaahnya. Bukan hanya jamaah dari warga sekitarnya, namun juga jamaah dari luar daerah.

Realita menunjukkan, bahwa masjid yang nyaman ternyata menjadi rest area favorit bagi para musafir. Masjid-masjid yang dikelola dengan baik akan menjadi “idola” bagi para tamu dari jauh. Disinilah akan menjadikan “crowd” atau kerumunan di saat-saat ibadah sholat wajib atau di saat kegiatan sosial atau keagamaan lainnya.

Akhirnya, lagi-lagi kembali pada prinsip, “dimana ada kerumunan, disitu pasti ada orang jualan” 😁

Namun, bila dilihat dari fenoimena saat ini, kesadaran akan kebutuhan spiritual dan aktualisasinya memang tengah meningkat. Grafik kesadarannya lagi naik.

Gerakan2 anti riba, hijabers, lagi marak dimana-mana. Belum lagi gerakan-gerakan sedekah berjamaah. Dan gerakan-gerakan lainnya. Masjid akan banyak menjadi pusat kegiatan sosial dan pendidikan.

Saya jadi teringat sebuah buku “Marketing to the Middle Class Moslem” karya Yuswohady. Toko retail diatas suatu saat akan ada relevansinya dengan isi buku tersebut.

Advertisements