Tukang sayur vs mandor pabrik

Saya dapat cerita ini dari istri saya, dia bercerita begini, seorang temannya pernah bekerja sebagai mandor pabrik rokok di perusahaan rokok ternama. Posisi / jabatan sebagai mandor di suatu divisi di pabrik tersebut tentunya sudah lumayan gajinya. Jam kerjanya mulai dari pukul 07.00 pagi sampai pukul 17.00 sore. Suatu durasi kerja yang cukup melelahkan tentunya.

Karena semakin hari desakan mengurus anak-anak yang masih kecil tidak bisa ditinggalkan lagi, akhirnya diambil-lah keputusan yang cukup berat untuk resign. Otomatis, dengan posisi tidak bekerja lagi, pemasukan tambahan tidak ada. Satu-satunya sumber pendapatan utama adalah dari suaminya. Maka diputarlah otak agar ia tetap bisa bekerja, namun juga bisa mengurus anak.

Tercetuslah ide untuk membuka jualan sayur mentah di depan teras rumah. Maka, dicobanya usaha jualan sayur itu dengan target pelanggan ibu-ibu di sekitar rumahnya. Setelah berjalan selama beberapa bulan, ternyata hasilnya lumayan. Dan setelah berjalan satu tahun lebih, penghasilannya sangat-sangat lumayan, bahkan melebihi gaji yang dulu sebagai seorang mandor pabrik.

Ditambah lagi, durasi kerjanya pun lebih pendek. Mulai berbelanja di pasar pukul 03.30 pagi, tutup lapak pukul 10 siang. Selambat-lambatnya pukul 11 dagangannya sudah habis. Kalau pun masih ada yang tersisa, dia konsumsi sendiri untuk kebutuhan keluarga.

Laiknya sebuah cerita orang yang sedang berusaha, ada sisi manisnya, ada pula sisi tidak manisnya. Berjualan sayur seperti ini diperlukan persiapan mental dan fisik. Karena harus bangun pagi-pagi buta untuk berbelanja. Dimana saat-saat seperti ini; banyak orang lain yang tengah terlelap dengan tidur dan mimpi indahnya.

Semuanya memang musti diperjuangkan 🙂

Semoga bermanfaat !

Advertisements