Ya Allah, tunjukkan kami jalan Lurus-Mu

Kita ini hanya dalam dimensi pikiran kita sendiri. Sangat terbatas. Terpenjara. Kita ini kolot, dungu dan bodoh. Keras kepala. Buta. Tuli. Angkuh. Berteriak sombong dengan lantangnya bahwa tidak ada surga dan neraka.

Banyak hal besar diluar sana yang tidak terjangkau nalar. Di luar dimensi kita. Diri ini sangat terbatas. Andaikan kita tahu itu. Beruntunglah mereka yang diberi petunjuk.

Siapa orang yang diberi petunjuk? Orang yang ingin kembali. Pada Rabb-Nya. Dengan hati yang tulus. Benar-benar ingin kembali. Seperti pada saat dilahirkan. Walau hanya sebatas niat. Tetapi itulah yang menyelamatkannya.

Andaikan pula kita mampu bersabar. Menikmati semua proses dan takdir kehidupan ini. Insya Allah saatnya tiba. Akan ada perubahan. Simpul-simpul itu mulai terjalin. Titik-titik itu mulai terhubung. Kesabaran itu akan berbuah manis.

Pasrah. Ikhtiar. Konsisten dan selalu tekun. Dunia berputar, ada saatnya kita mendapat bagian dari hidup ini. Ada saatnya kita hilang dari perputaran ini. Silih berganti. Selalu ada yang menang. Dan ada yang kalah.Terus berputar. Dipergilirkan kejayaannya.

Bila putaran itu berhenti. Itulah akhir yang sesungguhnya. Pertanggungjawaban yang yang seadil-adilnya. Atas segala perbuatan kita sewaktu di dunia. Dan setelah hari perhitungan berakhir, kita akan berada di fase akhir. Kekal didalamnya. Dalam keabadian. “Eternity”. Entah lara. Entah suka. Entah duka. Bergantung pada amal lalu, di kala bumi masih berputar.

Ya Allah. Hanya satu yang kupinta. Tunjukkan kami jalan lurus-Mu. Agar kami termasuk orang yang selamat. Orang yang engkau pandang dengan tatapan rahmat-Mu. Di hari akhir nanti.

Medio 2007 (dari catatan yang pernah tercecer).