Gombong lagi Demam Warnet

Pertumbuhan warnet di Gombong meningkat drastis. Setahun yang lalu cuma ada 1 warnet, satu tahun kemudian sudah ada 8 warnet. Diperkirakan akan bertambah empat warnet lagi. Pertumbuhannya memang sangat fantastis. Sepanjang Jalan Yos Sudarso, 300 meter sekali dipastikan ada warnet. Dari warnet-warnet yang ada tersebut tingkat huniannya begitu tinggi. Selalu ramai pengunjung. Mungkin inilah yang membuat orang jadi ngiler punya usaha warnet. Biasalah, kita-kita ini sukanya latah, ikut-ikutan kalau ada bisnis yang menggiurkan. Iklan bilang, “Others can only follow”😀 .

Beberapa pemain/pemilik warnet adalah big boss di kota Gombong. Mereka ini adalah para cukong dengan modal jumbo aliasa big size atau XXXL (he he he). Jadi, taruhlah mbukak warnet itu seperti mbukak toko kelontong😀 . Sekali bukak juga langsung big size, ruangan elegan, ac, ada game onlen, pokoke representatif bangetlah. Kasihan mereka yang punya warnet dengan modal cekak, ditambah masih ngontrak lagi. Dan warnet itulah satu-satunya tumpuan hidup mereka. Kalo bagi para taipan saya yakin itu hanya bisnis hiburan dan sampingan. Itung-itung buang duit sial😀 .

So, hukum rimba itu masih berlaku. Siapa yang kuat itulah yang menang. Tapi, ada satu kasus menarik. Yang lemah itu ternyata tidak selalu harus kalah dan diinjak. Pemodal besar tidak selalu menang. Bumi itu masih bulat dan selalu berputar. Legenda Daud (David) yang mengalahkan Goliath itu ternyata masih relevan.

Contohnya adalah tumbangnnya sejumlah toko komputer besar di Yogya seperti Chika dan Kaledia. Mereka ini adalah pemain dengan modal super kuat. Tapi ternyata bisa tumbang juga. Lalu apa sebabnya? Mereka kalah saing dengan toko kecil dan toko rumahan. Toko kecil/rumahan ini bisa menyediakan harga yang sangat miring atau murah. Lalu kenapa bisa murah? Biaya operasionalnya hampir nol (zero). Tidak ada gudang (stok barang), tidak ada pajak, tidak punya karyawan dalam jumlah ratusan, biaya transport, biaya overhead, dan biaya-biaya lainnya.

Mereka ini lincah dan fleksibel. Bergandeng dengan distri besar. Bisa bayar mundur. Layanan antar jemput, dan sebagainya. Toko kecil ini begitu berlimpah di setiap sudut gang atau perumahan. Harga adalah senjata mereka. Mereka tahu, mahasiswa itu sensitif harga, tapi pengin komputer yang bagus. Kloplah pertemuan ini. Malah sering sekali dijumpai, sang mahasiswa itu sendirilah yang punya sambilan bisnis komputer. Promosi WOM (Word of Mouth) adalah andalan mereka. Mereka ini hidup dari promosi mulut ke mulut.

Akhirnya, serangan dalam jumlah besar dan masif itu mampu merontokkan para taipan.

14 thoughts on “Gombong lagi Demam Warnet

  1. Waduh, bisnis warnet bisa merambah ke kecamatan atau daerah2 kecil di gombong ya no… semisal kemukus, sedayu, pekuncen, sempor, jatinegara, kuwarasan, kalo kentheng bisa tapi kayaknya lama no hahahaha…. kalo masalah jaringanya khan begitu ada line telpon pasti ada spidi khan no…. wah Hebat deh Gombong kita ini…. bentar lagi di gombong banyak Bloger dan banyak Hacker, tapi semoga nggak ada Carding dan Cracker ya… ya semoga saja….
    Semoga banyak para petani yg melek internet terus bikin blog untuk jual barang komoditi mereka… wah…. mimpiku sudah kemana2 nih… kita bisa kirim trasi ke Tri lewat YM ya no…. bisa kali ya…. jadi trasinya di encode jadi bilangan biner trus si tri punya alat decodenya hahaha… bisa kali yah… tapi rasanya berubah kali hahahaha… dadi bacin hahaha….

  2. @Mugi
    Sekarang sudah ada aroma digital gi. Jadi besok jualan parfum cukup dikirim pake internet. Begitu pun dengan terasi digital, siapa tahu bisa dikirim juga😀 . Semua serba mungkin, hanya pikiran kita saja yang membatasi (wuidiiiiiiih, berfilosofi).

  3. Ini emang lagi jamannya om. Tapi diliat2 yg lumayan berhasil cuma beberapa aja. Contoh kasus adalah warnet / game center baru BYON, dulu buka si rame … masi promosi gitu, sekarang udah sepi >.< katanya sih 1 jam gamenet Rp7000 gitu … wah gw sih jujur cuma 1x kesana pas lagi iseng2 coba awal2 buka jadi masi kena diskon ^^. Sekarang mah puas pakek Speedshit 3GB aja, walaupun sering RTO, down, ping gede dsb tapi lumayanlah, dirumah sendiri gitu loh.

  4. onokarsono

    @Hendra Gunawan
    Trendnya kayak di kota besar terdahulu, warnet kurang bumbu kalau tidak ada game online.

    Thx atas visitnya.

  5. aris

    mas aq justru tertarik dgn ……………”Lalu apa sebabnya? Mereka kalah saing dengan toko kecil dan toko rumahan. Toko kecil/rumahan ini bisa menyediakan harga yang sangat miring atau murah. Lalu kenapa bisa murah?
    ok jg buat numbangin pohon besar yg angker bin serem

    salam

  6. aris

    jaman eyang qu dulu ngalahin kompeni yg amunisi berceceran masih kalah dgn “BAMBOE ROENCING” dgn “GERILYANYA”
    thanks mas bisa bikin spirit kaya aq yg lg bisnis kecil2al

  7. onokarsono

    @Aris

    Yup..saya pikir memang demikian, bumi itu bulat mas🙂 . Semua bisa saja mungkin terjadi. Tinggal kita siap tidak dengan arus perubahan yang begitu deras mengalir.

    Thx sudah mampir. Sukses selalu mas.

  8. hery

    Lam kenal kanggo cah gombogn yo….

    aq cah karet ki….

    saiki agi neng jakarta….

    gombong pancen tambah maju…..

    saiki neng gombong warnet sejam piro…

  9. tupanx

    emang gombong lg banyak yg demam warnet.anak2 SD aja udah main game online.anak SMP pd friendster’an.anak SMA ngurusin tugas…
    lam kenal..

Comments are closed.