Kenangan lama pasti tidak akan terlupakan. Banyak moment indah disaat kita masih muda. Foto ini hanya sekedar untuk mengenang kembali masa-masa doeloe di kala susah dan senang saat berjoeang bersama-sama.

Ini poto waktu agresi militer Belanda ke-4. Waktu itu Belanda melanggar perjanjian lagi dengan meng-agresi kota Gombong
. Akhirnya para pejoeang ini bertahan di Desa Sidobunder – Puring. Poto diambil taon 1949.

Bersembunyi di rumah warga setempat. Biar kagak ketauan Belande. Bersembunyi koq tidurnya pules (he he he).

Ini poto diambil taon 60′an, sudah di alam kemerdekaan. Itu person yang terpampang diatas adalah cikal bakalnya “The Naip Band
” yang motonya : “Assoy Geboy ngebut di jalanan Ibu Kota”. Dari kiri ke kanan “AkuLali”, “John Ono”, “Edi Peee”, “Bucek” alias Budi Ceking” (temennya Edi di Lampoeng).

Poto diambil taon 69. Waktu itu masih susah nyari angkutan. Jadi sering jalan kaki kalo kemana-mana. Disamping itu, memang tidak punya duit (hi hi hi). Inflasi menggila, harga BBM naik. Beras susah didapat.

Para Pejoeang sedang istirahat. Bayangkan 60km jalan kaki
. Tanpa bekal tanpa sangu. Menyedihkan sekali.

Foto “Narsis” para Pejoeang ketika akan kembali lagi ke Gombong. Ini pejoeang apa “Mbois Band” ya
? Poto diambil awal taon 1980.

Anaknya para Pejoeang yang sudah hidup di alam kemerdekaan, keliatannya hidupnya sudah cukup makmur & sejahtera. Lha wong sudah bisa dolan-dolan
.

Anaknya para Pejoeang sedang setudi tur di Batavia. Itu yang diatas lagi naik pohon, anaknya moe’man sedang penthalitan. Memang bandel banget itu anak.

Reuni para Pejoeang memperingati HARPITNAS “Hari Kecepit Nasional” di tempat Kopral Aji. Sekarang sudah Mayor dia.
Maaf untuk Pejoeang lain yang belum terpampang potonya. Ini karena keterbatasan tempat dan waktu. Dan celakanya lagi memang, tukang potonya di “dor” sama tentara Jepang. Dikira mata-mata.
Walaupun suasana sedang paceklik dengan issue kenaikan BBM. Marilah kita berdoa agar duit yang dikumpulkan dari rakjat dan hasil kekayaan dalam negeri yang melimpah ruah gemah ripah loh jinawi tidak digunakan semena-mena oleh para “pamong praja”. Dari rakjat oleh rakjat untuk rakjat.
Dan selalu berdoa, agar kita diberi pemimpin yang adil, jujur, amanah, mengerti rakjat, pemimpin yang menjadi idola dan suri tauladan rakjat, dan berjoeang dengan cita-cita yang luhur dan lurus. Demi Indonesia yang berjaya. Kami pun akan selalu berdoa untuk negeri ini. Negeri ini. Negeri ini dan Negeri tertjinta ini.
Agar kelak anak cucu kami bisa menikmati perjoeangan kami ini. Sehingga apa yang kami perjoeangkan dahulu tidak sia-sia. Karena, kita ini tidak hanya hidup untuk hari ini saja. Tapi untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Amin…!!!
PS : Cerita poto diatas hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan wajah, nama dan tempat itu hanya kebetulan saja. Tapi gambar poto diatas adalah realita. Dan maafkan kami para produser dan kru film bila ada kata-kata dan gambar yang tidak berkenan.