Entries categorized as ‘Entrepreneurship’
Inilah kegiatan baru istri saya, jualan. Jualan burger. Idenya tercetus belum lama. Dari dulu istri saya selalu berkeinginan untuk bekerja. Saya sendiri sebenarnya kurang setuju kalau istri bekerja. Pertama, karena saya ingin istri saya fokus membesarkan anak. Anak adalah prioritas. Kedua, cukuplah suami saja yang bekerja menopang kehidupan keluarga. Insya Allah rejeki akan selalu ada kalau kita mau berusaha.
Tapi mungkin karena bete di rumah, istri minta diberi kegiatan sampingan. Syukur bisa menghasilkan
. Akhirnya ketemulah solusinya dengan usaha sampingan jualan burger. Kenapa sampingan? Karena tidak menyita waktu. Wong jualannnya itu mulai jam 4 sore sampai jam 8 malam
. Kenapa musti jualan burger? Prospek bisnis kuliner masih cerah di kota kecilku ini. Masyarakat Gombong ini paling doyan makan dan senang jajan. Jenis makanan apapun yang dijual rata-rata laris dikonsumsi. Jadi, dari perilaku makannya sudah kelihatan. Dan kebetulan lagi, istriku ini gemar atau hobi memasak. Jadi, kloplah antara hobi dengan bisnis.
Untuk paket burgernya, kami ambil milik Edam (Bang Made) yang sudah kondang sebagai ikon burger Indonesia. Pilihan dijatuhkan karena investasinya murah. Kurang lebih 3 jutalah. Ditambah lagi tidak ada franchise fee, jadi pikir saya Bang Made ini benar-benar punya semangat untuk menolong dan membantu rakyat kecil yang ingin menjadi entrepreneur. Kami ambil stand/outlet tetapnya pada distributor Edam di Jogja, sekaligus bahan baku awalnya. Dua hari saya bersama istri kursus masak burger di Jogja
. Kebetulan distributor di Jogja ini orangnya sangat ramah dan supel, namanya bu Elvis. Kami diberi bekal cukup banyak disana. Dapat ilmu baru neeh. Dan tentunya bertambahlah relasi kami.

Setelah 1 minggu mempersiapkan segala sesuatunya. Hari kamis, tanggal 19 Juni 2008, outlet burgernya dibuka. Kami ambil lokasi di Jalan Kartini dengan alasan arus hilir mudik atau lalu lintasnya sangat ramai. Alhamdulillah, jualan pertama boleh dikata sukses. Kurang lebih jam 16.30, belum selesai kami menata peralatan jualannya , eh sudah ada pelanggan pertama datang. Pecahlah telor pertama
. Ada feeling jualannya bakal rame nih. Bener juga, sampai jam 20.30 dagangan sudah habis. Wah betapa leganya kami, maklumlah awalnya sangat pesimis, apa bisa laku ya? Jadi, bener juga kata Om Bob, kalau mau bisnis jangan terlalu banyak mikir dan dianalisa, semakin banyak dianalisa, semakin jauh kita untuk memulai. Enak sekali kalau bisnis bisa diprediksi untung ruginya diatas kertas.
Istriku senang, saya pun ikut senang. Karena anak tidak terabaikan, dan bisnispun tetap jalan. Dia gembira karena bisa menyalurkan hobinya sekaligus mendapatkan penghasilan. “Ternyata, orang jualan itu enak ya !” kata istriku.
Mudah-mudahan bisnisnya bisa terus eksis. Selamat ya sudah jadi mompreneur
.
Categories: Daily · Entrepreneurship
Tagged: Burger, Entrepreneurship, Kuliner
Bekerja tak kenal lelah, siang malam, tak kenal waktu, kerja keras, banting tulang. Sudahkah itu semua membuat kita berkecukupan? Belum tentu. Mungkin secara materi terpenuhi, tetapi kebahagiaan dan ketentraman sering tidak tercukupi. Kita selalu berorientasi bekerja untuk uang. Uang adalah segalanya. Tetapi Pak Kiyosaki membantah, “Uang hanyalah sebuah Ide”
.
Kenapa tidak dibalik? Biarlah uang yang bekerja untuk kita? Bukan kita yang menjadi budak uang. Saya selalu tertarik dengan kalimat itu. Uang bekerja untuk kita. Bagaimana agar uang bisa bekerja untuk kita? Solusinya adalah menciptakan sebuah sistem. Membangun sebuah bisnis. Bisnis riil dan legal tentunya. Itu saja.
Tujuannya adalah agar kita berkecukupan, syukur berkelimpahan (abundance). Kecukupan materi. Kelimpahan waktu. Banyak waktu untuk keluarga. Lebih banyak waktu untuk menyalurkan hobby dan bersilaturahim, dan banyak waktu untuk menikmati hidup. Menurut saya inilah idealnya.
Ada kisah menarik tentang kesuksesan seorang tukang becak yang saya baca di sebuah majalah wirausaha. Dulu, dia hanya pengayuh becak biasa. Singkat cerita, kini, dia adalah juragan becak, dengan puluhan armada becaknya. Becak-becak itu dia sewakan. Kini, penghasilannya jauh lebih baik. Inilah yang mungkin disebut faktor kali dalam sebuah bisnis. Hikmah dari kisah ini adalah bagaimana menciptakan sebuah sistem, sehingga uang bisa bekerja untuk kita.
Mudah diucapkan, susah dipraktekkan. Prinsipnya memang harus diubah. Bukan bekerja lebih keras, tapi lebih pintar. Perlu keberanian memang. Kenapa tidak dicoba? Jangan sampai tertidur di zona nyaman kita.
Image source : www.flickr.com/photos/joyoflife/113691870/
Categories: Entrepreneurship
Tagged: Entrepreneurship
Kalau kemarin asyik ngomong masalah toko merchandise online di Cafepress, kini ngomongin masalah t-shirt. Masih seputar desain dan make money online
. Yang kita omongin selanjutnya adalah Threadless. Sebuah perusahaan yang spesialis jualan kaos.
Threadless ini punya cara jualan yang unik. Perpaduan yang hebat antara ide social networking dan e-commerce. Bener-bener situsnya berbasis komunitas. Semua desain kaos sebagian besar berasal dari komunitasnya. Komunitaslah yang akan menilai apakah desain tersebut layak dicetak. Desain yang digemari oleh komunitas akan dicetak sebagai kaos yang akan dijual kepada publik. Sang pemilik desain pun akan mendapat honor sebesar $12.500 dalam bentuk cash money dan gift certificates.
Asyik ya? Tapi memang tidak semudah itu bisa mendapatkan $$$ dengan mudah. Kita musti bersaing dengan ratusan desain dari berbagai desainer kondang dan ternama
. Tapi jangan putus asa, Threadless menyediakan ruang khusus untuk desain yang belum matang untuk diberi masukan atau kritik oleh komunitas Threadless. Jadi, bisa digunakan sebagai sarana belajar. Yang terpenting adalah ide yang menarik dan kreatifitas. Dan kemampuan mendesain tentunya
.
Tertarik ingin menjadi bagian dari komunitas Threadless?.
Categories: Entrepreneurship · Make Money Online · Web 2.0
Tagged: t-shirt, threadless
Bill Gates ngomong dia itu menyesal nggak menyelesaikan kuliahnya? Seriuskah dia dengan omongannya itu? Sunguh-sunguhkah dia menyesal? Ah..belum tentu. Bisa jadi hanya sebatas pemanis saja. Lha wong dia itu orang pinter dan terkenal, apa saja bisa dibuat manisan
. Tapi memang betul, orang Indonesia itu harus pinter, harus berpendidikan tinggi. Biar tidak mudah dibodohi orang. Lalu kategori orang pinter itu seperti apa ya?
Ngomong masalah kepinteran dan kejeniusan Bill Gates. Mungkin dia kagak bakalan sukses seperti sekarang ini kalau tetap meneruskan kuliahnya. Dia itu jenius, intuisinya tajam. Dia tahu Microsoft itu tambang emas. Makanya energinya difokuskan untuk menggali terus tambang emasnya.
Orang jenius kayak Bill Gates itu tidak hanya otak kirinya yang encer. Tapi otak kanannya juga jalan. Perpaduan serasi antara dua otak tersebut menghasilkan formula yang bernama Super Bejo (super beruntung) he he he. Banyak orang kita yang otaknya encer tapi tidak bejo. Tapi banyak juga yang otaknya bebal malah bejo.
Kalau sarjana sukses itu memang sudah biasa. Tapi kalau tukang rongsok itu sukses adalah sesuatu yang ruaar biasa. Tukang rongsok itu tidak punya modal intelektual tinggi, tapi bisa membaca peluang. Saya tidak tahu yang jenius itu yang mana?
Jadi, kalau dipikir lagi kita milih yang mana? Tidak ada yang bisa dipilih. Apapun latar belakang kita, yang puenting itu adalah bagaimana memaksimalkan fungsi kedua otak kita supaya jalan, tidak cuthel, tidak buntu, tidak dodol. Artinya otak itu harus sering dipake untuk berpikir. Mencari strategi. Membaca peluang. Dan dipakai untuk sinau kepada siapa saja. Selalu sinau (belajar) pada kehidupan juga. Agar besok itu punya nilai tambah. Agar besok itu bisa berubah. Agar besok itu bisa menjadi orang pinter dan sukses kayak Bill Gates.
Syukur menjadi orang Bejo apalagi Super Bejo. Eh, tapi itu baru bejo di dunia lho. Ada lagi yang sangat pinter dan sangat jenius. Yaitu orang yang Super Bejo di dunia akhirat. “Boro-boro mikirin akhirat, nyari duit halal aja susyah“. Weleh ….!!!
Categories: Entrepreneurship · Opini
Tagged: Bill Gates, Jenius, Pinter