Liburan lebaran sudah usai. Arus balik juga sudah mulai menyusut. Kembali lagi kita bekerja seperti biasanya. Mudah-mudahan setelah lebaran usai, ada aroma segar dan baru menyongsong etape kehidupan berikutnya. Lebih fresh lebih semangat. Soalnya pikiran kita baru di recharge ulang di kampung halaman. Yah, menurut saya recharge pikiran itu sangat penting. Kejenuhan akan rutinitas sering membuat diri terasa kering dan hampa. Sebegitu pentingnya pulang kampung sehingga apa pun dilakukan agar bisa bertemu sanak saudara.
Pulang kampung atau mudik sudah menjadi tradisi bangsa ini. Tapi anehnya, aroma mudik hanya terasa kalau kita dari Jakarta saja. Coba kalau sampeyan pulang mudik dari Surabaya atau Medan. Pasti aromanya kurang menyengat. Yah, Jakarta masih menjadi tumpuan dan harapan. Ribuan pendatang baru berbondong-bondong setiap tahunnya ke sana. Populasi bertambah padat. Tentu akan menambah beban kota Jakarta sendiri dan beban hidup penduduknya. Masih nyamankah untuk hidup layak disana?
Setelah lebaran usai, kampung halaman pun bertambah sepi. Penduduknya terutama yang muda-muda sudah meninggalkan desanya, mengejar segenggam impian di kota. Memang, di desa sangat minim sekali lapangan pekerjaan. Sektor industri bisa dihitung dengan jari. Bertani bukanlah kebanggaan. Bisa hidup apa di desa? Mungkin begitulah yang ada di benak kita dan mereka, kaum urban.
Kita pun tidak bisa bicara seandainya. Seandainya pabrik-pabrik di Jakarta pindah ke desa, seandainya banyak pertokoan di desa. Realita berbicara lain.
Tapi, saya kira masih ada harapan untuk bisa menjumput sejumlah mimpi di desa. Kehidupan ini dinamis. Selalu ada yang berubah dari ke hari. Potensi di kampung masih sangat luas. Apalagi kini didukung dengan perkembangan teknologi informasi. Akses akan informasi bukanlah kendala lagi. Saya yakin itu telah membuat banyak perubahan di desa.
Ada harapan baru bagi yang ingin dan berorientasi hidup di kampung. Mungkin hanya kreatifitaslah yang bisa mendobrak kesenjangan itu. Kreatifitas untuk membuat nilai tambah, agar produk dan potensi desa bisa dijual ke kota. Kreatifitas untuk merealisasikan ide dan cita-cita yang sudah lama mengendap.
Mungkin tujuannya sama, agar bisa hidup nyaman, lebih tenang dan sejahtera di kampung. Agar bisa membangun kampung halaman. Walaupun tidak bisa segemerlap Jakarta. Tapi setidaknya ada nadi kehidupan disana. Ada gairah disana. Ada harapan untuk bisa hidup layak disana.
Dapatkah mimpi itu terwujud disana? Di kampung halaman kita?
Gambar diambil dari : http://kharistya.wordpress.com





November 17, 2008 at 3:40 am
Kalau semua pada jadi kaum urban .. njur siapa yang mbangun kampung… ? semoga sukses jadi pak lurah…
November 17, 2008 at 9:17 pm
@Hendris
Amin amin amin
.
November 24, 2008 at 1:57 am
wes saminggu tek tunggu gak ana tulisan sing anyar…. kemana oiiiii
November 25, 2008 at 11:48 pm
Wah sory banget ndris…lagi sok sibuk dengan segala macem urusan
. Dan yang jelas moodnya lagi terbang jauh.
Trims atas tegurannya. Salam untuk temen2 disitu
.
November 29, 2008 at 8:37 am
Ass.wr.wb
Hallo Kar…..sukses kiyeh….isa duwe blog dhewek…
salam nggo kanca kanca nang gombong yapppp
Wasss,wr,wb..
Yayid ,gg.giombong
Dubai
November 29, 2008 at 8:50 pm
Wa’alaikum salam wr wb
Matur nuwun Kang Yayit. Pripun kabare? Sekarang di Dubai ya? Ora nyangka bisa sampai di Dubai, kota yang katanya semakin cantik dan tempat surganya orang-orang berbelanja. Kerja di perusahaan apa Yit?
Insya Alllah nanti saya titipkan salamnya untuk teman2 di gombong.
Sukses selalu ya.
December 6, 2008 at 5:23 am
Semoga mimpi itu menjadi kenyataan. Semoga Bali Desa Mbangun Desa juga bukan sekedar slogan Kang.
Jika daya tarik kota itu bisa dipindah ke desa, semmoga semangkin banyak orang-orang yang peduli dan cinta pada kampung halamannya.
Salam kenal dari wong ndeso banget Kang Karsono. Semalam mimpi apa Kang? hehe …….. http://www.penironku.blogspot.com
December 6, 2008 at 5:29 am
Oya maaf sampe lupa Mas. Nama saya SUHAR. Asli desa Peniron Pejagoan Kebumen. Ndesa banget lah. Salam..
December 6, 2008 at 6:35 am
@mas Suhar
Salam kenal juga Kang Suhar, siip lah wis pada aktif nge-blog. Ternyata nduwe akun di blogspot juga ya?
Sukses selalu ya Kang.
December 7, 2008 at 1:57 am
Ngeblog alakadar Mas Kar.. Saya lebih dulu ngeBlog pake blogspot Kang. Tapi bosen dan pengin coba di WP.
Sharing ilmune ben kami pinter ya Kang.
December 7, 2008 at 2:20 am
@Suhar
Gini saja kang, kita sama2 sinau ya, aku juga masih belajar, paling enak kopdar sambil ngobrol trus berbagi ilmu masing2 he he he.
Pripun, kalau perlu temen2 lain yang sering onlen juga dikontak2, aku sebenarnya kangen juga pengin ketemuan sama blogger Kebumen, wajahnya seperti apa ha ha ha.
Sory kang, hanya guyon. Monggo dipun penggalih. Nuwun.
April 16, 2009 at 4:46 am
banyaknya kaum urban adalah dampak dari tidak meratanya pembagunan di Indonesia padahal daerah2 yang lain masih menyimpan potesi yang cukup besar untuk dikembangkan baik itu dari segi alamnya ataupun dari segi pariwisatanya
April 20, 2009 at 7:20 am
@Bunga Tidur,
Sepertinya memang pembangunan masih terfokus di kota besar. Belum merata sampai ke desa.
June 11, 2009 at 10:14 pm
asik juga yach hidup di desa